METAFORA MAKANAN TONTEMBOAN

by -76 views

Penulis:

Stanly Monoarfa,S.Pd.,M.Si

Pacificnews.id-.Metafora diklasifikasikan  ke dalam enam jenis: metafora mati (dead metaphor), metafora klise (cliché metaphor), metafora standar (standard or stock metaphor), metafora kontemporer (recent metaphor), metafora orisinal (original metaphor), dan metafora saduran (adapted metaphor) (Newmark ,1998 ). Lakoff dan Mark (1980) berfokus metafora sebagai proses kognitif dan merupakan hasil pengalaman.   
Metafora makanan Tontemboan  merupakan proses kognitif dan merupakan hasil pengalaman dari masyarakat Tontemboan. Metafora makanan Tontemboan terfokus khusus pada nama makanan tradisional  yang sudah dibuat oleh masyarakat Tontamboan yang muncul pada acara syukuran secara formal dan informal di wilayah Sulawesi Utara.
Terkait dengan itu, permasalahan yang muncul adalah apakah bentuk lingual   metafora apa saja yang muncul pada kuliner Minahasa dan maknanya?
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif  kualitatif bersifat  fenomenologi melalui  pendekatan  etnografi. Teori yang digunakan dalam menganalisis data adalah teori penamaan dan  teori dasar Linguistik serta gastronomi secara eklektik
Hasil kajian yakni sebagai berikut. Nama-nama makanan Tontemboan yang menjadi  Perbandingan: tanaman dan tumbuhan berupa sayuran dan buah-buahan sebagai nama makanan atau minuman dibandingkan dengan alat tubuh manusia dan perbandingan yang berkaitan dengan upacara atau acara syukuran pada masyarakat Minahasa , yaitu sebagai berikut:. rica, pangi, bubur, bobengka, brot goreng, sende’en, pongkor, kolombeng, apang putih, dan binyolos.   
Makna makanan Tontemboan yakni konotatif karena arti yang muncul diluar arti sebenarnya.
Kata kunci : Metafora ,  kuliner Minahasa, bentuk lingual, dan makna.

PENDAHULUAN
Metafora merupakan teori perbandingan (comparison theories) dan teori interaksi semantik (semantic interaction teories). Kedua teori ini menekankan bahwa konteks yang terdapat dalam ungkapan metafora mengandung dua sisi makna, yaitu sisi yang satu bermakna metaforis dan sisi yang lainnya bermakna harafiah. Metafora diklasifikasikan  ke dalam enam jenis: metafora mati (dead metaphor), metafora klise (cliché metaphor), metafora standar (standard or stock metaphor), metafora kontemporer (recent metaphor), metafora orisinal (original metaphor), dan metafora saduran (adapted metaphor) (Newmark ,1998 ). Lakoff dan Mark (1980) berfokus pada metafora sebagai proses kognitif dan merupakan hasil pengalaman.
Metafora makanan Tontemboan  merupakan proses kognitif dan merupakan hasil pengalaman dari masyarakat Tontemboan. Metafora makanan Tontemboan terfokus khusus pada nama makanan tradisional  yang sudah dibuat oleh masyarakat Tontemboan yang muncul pada acara syukuran secara formal dan informal di wilayah Sulawesi Utara.
Bahasa Tontemboan digunakan di wilayah kawangkoan dan Langowan merupakan salah satu Bahasa asli Minahasa yang masih digunakan sampai saat ini. Wilayah pemakaian Bahasa Tontemboan paling luas di Minahasa.
Penelitian terhadap Minahasa sudah banyak dilakukan para ahli bahasa, baik dari dalam negeri maupun luar negeri (secara lokal, nasional, dan internasional).
Namun, penelitian khusus terhadap nomina aspek makanan dan minuman khas Minahasa khusus wilayah pemakaian bahasa Tontemboan masih jarang dilakukan. Padahal, makanan dan minuman khas Minahasa dianggap sebagai salah satu aspek budaya asli Minahasa yang penting bila dilihat dari berbagai peninggalan budaya Minahasa yang masih bertahan saat ini (Pamantung, 2015).
Kenyataan menunjukkan bahwa makanan dan minuman Minahasa merupakan  salah satu peninggalan budaya yang   kokoh dan   masih bertahan saat ini dengan pemunculan leksikon berupa nama makanan dan minuman khas asli Minahasa serta variasi dan modifikasinya yang tidak berkurang tetapi terus bertambah sesuai pertnyataan dari Pamantung (2015).
Pemunculan makanan dan minuman khas Minahasa khusus Tontemboan dalam realitas kehidupan masyarakat itu yang dianggap menjadi hal signifikan sehingga dijadikan satu bahan kajian penelitian dalam antropolinguistik, sebagaimana pernyataan yang dikemukakan oleh Renwarin (2007) bahwa model pembagian spasial di Minahasa menggambarkan suatu kondisi mapan sebagai suatu titik berangkat untuk perubahan, serta melukiskan dinamisme transformasi yang terjadi dalam sejarah pemukiman-pemukiman Minahasa. Dalam perjalanan waktu sesuai dengan sejarah itu diakomodasikan ke suatu model yang lebih sistematis dengan maksud untuk mengakui si tou ’orang’ (baik individu-individu maupun komunitas) yang hidup dalam suatu ranah tertentu.
Oleh karena itu, penelitian tentang nama makanan Tontemboan merupakan hal yang signifikan dalam rangka pemertahanan bahasa dan budaya agar supaya dokumentasi menjadi bermanfaat bagi generasi muda. 
Permasalahan yang muncul yaitu apa saja nama makanan Tontemboan yang muncul dan maknanya?
Beberapa hasil penelitian yang terkait dengan taksonomi aspek makanan dan minuman khas Minahasa yang sudah dilakukan, antara lain oleh Adam (1976), Kalangi (1980), Graafland (1983), Karamoy (2002), dan Weichart (2004). Tulisan lain adalah artikel Kalangi (1980: 143) dengan judul “ Kebudayaan Minahasa” dan tulisan Wenas (2007) dengan judul Sejarah dan Budaya Minahasa yang memaparkan tentang lingkaran hidup (life cycle) dari suku Minahasa sebagai etnis terbesar yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Disertasi Taksonomi  Nomina Aspek Makanan Khas Minahasa merupakan referensi yang penting juga dalam penelitian ini.
Hester (1976 ) menyebutkan metafora merujuk pada dua komplemen yang sejajar yakni epiphor dan diaphor. 
Unsur-unsur yang membangun metafora disusun dari beberapa identitas simbol, di antaranya berupa kelas kata, seperti nomina, adjektifa, dan verba. Simbol lingual metaforanya dapat berupa sesuatu (the things), seseorang (person), ide (ideas), periode (periods), wilayah (areas), kualitas (quality), disposisi (dispositions), hubungan (relations) dan lain-lain.
Konsep metafora menurut Aristoteles bahwa metafora dinyatakan sebagai pemberian nama yang berasal dari bidang lain. Cara pemindahan nama itu dapat dilaksanakan dari hal-hal yang umum ke khusus, dari yang khusus ke umum, dari yang khusus ke khusus atau atas dasar analogi.
Konsep metafora menurut Searle (1979) yang menyebutkan bahwa kedudukan metafora dalam keseluruhan bahasa kias atau figuratif dapat diklasifikasikan menjadi dua bagian, yaitu (1) metafora yang diposisikan dalam pengertian luas atau sebagai payung untuk semua bahasa kias, dan (2) metafora dalam arti yang sempit.
Konsep Searle (dalam Ortony, ed. 1979:92—123) pada istilah metafora sebagai sebuah ekspresi kebahasaan yang bermakna figuratif.
Metafora juga dinyatakan sebagai ekspresi linguistik. Artinya adalah bahwa metafora memiliki karakteristik bahasa dan merupakan sebuah perspektif. Di samping itu juga metafora adalah merupakan masalah imajinasi rasionalitas.
Dalam hal ini, konsep itu tidak hanya menyangkut masalah intelektualitas tetapi
juga di dalamnya memuat semua pengalaman yang alami sehingga pemahaman makna metafora didasarkan atas aspek pengalaman, di antaranya pengalaman estetika. Lakoff dan Mark (1980:53) juga menyebutkan bahwa metafora didapati dalam kehidupan sehari-hari. Ditambahkan bahwa berdasarkan pengalaman konsep metafora meliputi tiga hal, yaitu (1) ide (makna) untuk menandaai sesuatu yang berupa objek, (2) ekspresi linguistik yaitu berupa kata-kata sebagaiwadahnya (kontainer), dan (3) cara komunikasi atau cara penutur menyampaikan maksud secara figuratif.
Esensi konsep metafora berupa pemahaman dan pengungkapan jenis sesuatu yang bermakna metaforis. Untuk memahaminya sangat diperlukan penerapan dasar teori perbandingan.
Dengan dasar kognitif ini metafora dipandang menduduki posisi kunci atau sebagai payung dari semua tuturan yang metaforis, baik metafora yang konvensional maupun metafora yang berbentuk struktur dari hasil imajinasi atau kreativitas.
Uraian konsep metafora  (Beardsley,1981; Lakoff dan Mark,1980; Luxemburgh, dkk., 1984; dan Cormac, 1985) disimpulkan bahwa metafora merupakan payung bagi semua jenis ungkapan yang mengandung konsep perbandingan.
Richards (1936: 90) menyatakan bahwa metafora sesuatu yang istimewa dan hanya digunakan oleh orang-orang berbakat sebagai ornamen retoris. Dengan kata lain, dia menolak pandangan bahwa metafora digunakan secara khusus hanya dalam karya sastra.

 

METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif melalui pendekatan etnografi atau etnometodologi pada tataran linguistik yang bersifat  deskriptif sinkronis. Pendekatan etnografi atau etnometodologi dilakukan dalam pengumpulan data sehingga bentuk dan makna dari makanan Tontemboan sesuai dengan konsep pemikiran  masyarakat Minahasa, secara budaya dalam ranah antropolinguistik atau etnolinguistik ditemukan. Selanjutnya, metafora makanan Tontemboan memiliki makna secara budaya dan bahasa pada relasi leksikal dapat dikonfigurasikan secara taksonomi hierarkis.  Penelusuran semua aspek bahasa di atas ditelusuri dari penamaan makanan Tontemboan. Prosedur yang dilakukan pada pendekatan etnografi, yaitu 1) mengumpulkan data kebudayaan, 2) menganalisis data kebudayaan, 3) memformulasikan hipotesis etnografis,  4) menganalisis data kebudayaan, dan 5) menuliskan hasil. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah pengamatan, pengamatan  berpartisipasi, dan wawancara. Metode wawancara dan pengamatan terhadap informan dilakukan di wilayah kota Manado dan wilayah Kabupaten Minahasa khusus kawangkoan dan Langowan yang dipilih berdasarkan purposive sampling. Analisis data ditempuh dengan langkah interpretasi dan  rekonstruksi melalui model analisis komponen makna (Nida, 1976).
 ANALISIS
Metafora pada perangkat leksikal nama makanan Tontemboan dapat dijelaskan sebagai berikut.
            Makna kognitif dari makanan dan minuman khas Minahasa yang merupakan bagian dari komponen kognitif supplementary sebenarnya berasal dari mitos atau ide (Nida, 1975 : 38). Mitos berisi  simbol yang digunakan pada nama makanan dan minuman. Ada analogi antara struktur dari budaya dan struktur semantik dari bahasa yang berkaitan. Bahasa bebas dari penggambaran variasi kemungkinan, termasuk merefleksikan aspek-aspek tertentu dari struktur semantik yang aspek budayanya untuk satu alasan menjadi ”salient dari leksikal kontras”. Konsep klasifikatori tidak terkait dengan referen, tetapi pada simbol.  
Hickerson (1980) menyatakan bahwa metafora terkait dengan nilai tertinggi yang dipercaya atau dianut oleh masyarakat budaya itu. Pemakaian metafora dikonsepkan sebagai arti yang meluas. Penggunaannya diterangkan secara psikologi, yakni ”phsiognomic perception” yang cenderung dicermati dari fitur-fitur bahan makanan  yang diproduksi dan dikonsumsi pada masyarakat Tontemboan.
Pada relasi makna dalam bentuk sinonim, polisemi, dan homonim biasanya bentuk leksem memunculkan makna konotatif sebagai kiasan. Metafora yang dikenal pada bahan makanan berupa pangi, bubur, rica, dan kue apang. Rasa, model, dan bentuk dari makanan ditransformasikan atau dipindahkan pada sifat atau perilaku manusia. Rica menjadi mulu rica-rica. Pangi menjadi muka pangi, bubur dianalogikan sebagai hal yang negatif, sedangkan kue apang diidentikkan dengan acara syukuran orang meninggal.
Klasifikasi atau hierarki bentuk dari perangkat leksikal nama makanan  sebagai metafora adalah sebagai berikut. Nama-nama makanan Tontemboan yang menjadi kiasan berupa perbandingan, pertentangan, dan pertautan dalam metafora adalah rica, pangi, bubur, bobengka, brot goreng, sende’en, pongkor, kolombeng, apang putih, dan binyolos.
(i) Perbandingan: tanaman dan tumbuhan berupa sayuran dan buah-buahan sebagai nama makanan atau minuman dibandingkan dengan alat tubuh manusia
(1) Pangi menjadi ”muka pangi”
Pangi sebagai nama sayuran dari tumbuhan hutan dan termasuk pada nama makanan Minahasa diibaratkan dan dikaitkan dengan muka orang Minahasa yang bulat, lonjong dan sering makan makanan pangi sehingga ”muka pangi”  disamakan dengan muka atau wajah dari orang Minahasa.
(2) Bubur Manado atau  tinu’tuan
Bubur dianalogikan dengan bibir yang sering memakai lipstik warna merah sehingga kadang-kadang disamakan dengan arti ’bibir’ yang bermakna konotatif negatif.
(3) Rica menjadi rica-rica
Rica menjadi rica-rica atau mulu rica-rica. Rica atau cabai mempunyai sifat pedas disamakan dengan perkataan orang dari mulut yang pedas dan menusuk hati.
(4)       Bobengka dan kolombeng sebagai nama kue yang berbentuk bulat diidentikkan atau disamakan dengan alat tubuh wanita. Makna konotatif dari bentuk bulat beralih ke bentuk salah satu alat tubuh wanita.
(5)       Brot goreng. Brot artinya cemberut. Bila brot ditambah dengan cara memasak goreng menjadi nama kue dengan adonan tepung terigu.
(6)       Sende’en.
            Sende’en berarti sayur dan dikenal dengan makanan yang sering dikonsumsi oleh wanita yang baru  melahirkan seperti tinu’tuan sebagai salah satu jenis sayuran. Dengan demikian, sende’en kadang-kadang dianalogikan atau disamakan dengan seorang wanita yang berkelakuan negatif sehingga menyebabkan pria berkelahi. Sende’en akhirnya diartikan sebagai alat kelamin wanita. Ada ungkapan yang sering diucapkan oleh masyarakat Minahasa di Tounlambot, yakni  sende’en no ko atau  karna sende’en wo se tuama  matokol atau ”so karna sende’en itu sampe tu laki-laki bakalae”. Artinya, karena alat kelamin wanita menyebabkan ada perkelahian antara dua orang lelaki.
(7) Pongkor.
            Pongkor sebenarnya bermakna ikan air tawar seperti ikan emas. Tetapi kadangkala pongkor sudah dianalogikan secara negatif menjadi “alat kelamin lelaki”. Kalau ada dua orang wanita yang berkelahi maka ungkapan yang diucapkan masyarakat Minahasa di Tounlambot adalah  karna pongkor nea wo se wewene matokol atau‘cuma gara-gara depe pongkor sampe wewene itu bakalae’. Artinya, “cuma gara-gara seorang laki-laki punya alat kelamin saja menyebabkan wanita berkelahi”.
           
(ii) Perbandingan juga berkaitan dengan upacara atau acara syukuran pada masyarakat Minahasa , yaitu sebagai berikut.
(1)       Apang putih identik atau diasosiasikan sama dengan upacara agama atau acara kematian.
(2)       Makanan berlabel linulut yang terdiri atas makanan daging yang dimasukkan di bambu dan dibakar identik atau disamakan dengan acara pengucapan syukur. Tanda berupa simbol dengan mitos upacara keagamaan muncul pada nama makanan linulut.
(3)       Binyolos sebagai nama kue dari Minahasa dengan bentuk dan model mirip kotoran binatang sehingga diumpamakan atau diibaratkan dengan sifat seseorang yang negatif.
Setelah dicermati pembahasan tentang makna dalam aspek keterkaitan makna dalam relasi makna dari makanan dan minuman khas Minahasa dengan teori medan makna dan dilengkapi dengan teori komponensial melalui analisis komponen makna maka simpulan dari bentuk relasi makna terdiri atas sinonim, akronim, hiponim, homonim, dan polisemi dengan metaforanya.
 KESIMPULAN
   Kesimpulan yang dapat dikemukakan yakni sebagai berikut.
Metafora kuliner Minahasa memiliki bentuk yang dapat dicermati melalui nama makanan tradisional Minahasa.
Metafora kuliner Minahasa terdiri atas sende’en, pangi, posana. pongkor, cucur, nasi jaha, kukis apang putih, balapis, binyolos, dan bobengka.
            Makna metafora kuliner Minahasa yakni konotatif karena selalu memiliki arti diluar dari arti kata itu. Arti sebagai makna dari nama makanan Minahasa sering ke makna negative yang mengacu ke pada subjek orang.             Selain itu makna konotatif memiliki arti perilaku negatif atau sifat dari seseorang.
 
 
DAFTAR PUSTAKA
Aarts dan Aarts. 1978. Grammatical English. New York: McMillan Press.
 
Adam, I. 1976. Adat-Istiadat Suku Bangsa Minahasa. Jakarta: Bhrarata.
 
Allan, Keith. 1986. Linguitic Meaning Vol.1. London: Roudledge & Kegan Paul.
 
Alwasilah, Chaedar. 2002. Pokoknya Kualitatif: Dasar-dasar Merancang dan Melakukan Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Kiblat Utama.
 
Aminuddin. 1988. Semantik: Pengantar Studi tentang Makna. Bandung: PT Sinar Baru.
Atchinson, J. 1994. Words in Mind. Cambridge: Blackwell publishers.
 
Aronoff, M  and Fudermann, K. 2005.  What is Morphology. Maiden: Blackwell Publishing.
 
Bawa, I W dan I Wayan Cika. 2004. Bahasa dalam Perspektif Kebudayaan. Denpasar: Universitas Udayana.
 
Casson, R. 1981. Language, Culture, and Cognition: Anthropological Perspectives. New York: McMillan Publishing Co, Inc.
 
Chaer, Abdul. 1995. Pengantar Semantik Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta
 
 
 
 
 
Djajasudarma, F. 1993. Metode Linguistik: Ancangan Metode Penelitian dan Kajian. Bandung: PT Gresco.
 
Djajasudarma, F. 1993. Semantik I-II. Bandung: PT Rafika Aditama.
 
 
 Foley, W. 1997. Anthropological Linguistics in Introduction. USA: Blackwell publisher.
 
Givon, T. 1984. Syntax: A Functional Typological Introduction. Amsterdam/Philadelphia: John Benjamins Publishing Company.
 
Hickerson, N. 1980. Linguistic Anthropology. New York: Holt, Rhinehart and Winston Inc.
Kalangi, N. 1980. Kebudayaan Minahasa. Dalam Koentjaraningrat (Ed.). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta:
 
Karamoy, O. 2002. Peristilahan atau Kosa Kata yang Digunakan Orang Minahasa pada Komuditas Pertanian dalam Pembuatan Makanan Tradisional. Dalam Duta Budaya. No. 53/54. Manado: Fakultas Sastra, Unsrat.
 
Kempson, D. 1977. Semantic Theory. Cambridge: Cambridge University Press.
 
 
Kridalaksana, Harimurti. 1994. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia.
 
 
Ingkiriwang, J. 2007. Manusia dan Kebudayaan Minahasa. Manado: Percetakan UNSRAT.
Lakoff, G. 1992. The Contemporary Theory of Metaphor
To Appear in Ortony, Andrew (ed.) Metaphor and Thought (2nd edition), Cambridge
University Press.
 
Leech, G. 1971. Semantics. London: Penguin Books.
 
Lehrer, A. 1974. Semantic Fields and Lexical Structure. Amsterdam: North Holland Publishing Company.
Lutzeier, P.R. 1983. The Relevance of Semantic .Field. Theoretical Linguistics 10: 147 – 178.
 
Lyons, J. 1977. Semantics. I – II. Cambridge: Cambridge University.
 
Matthews, P.H. 1978. Morphology: An Introduction to the Theory of the Word-Structure. London: Cambridge University Press.
 
 
Miles, M dan Huberman, M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Penerjemah Tjetjep Rohidi. Jakarta: UI Press.
 
Moleong, Lexy J. 1994. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, Offset.
 
Nida, E. 1975. Componential Analysis of Meaning. The Haque: Mouton
 
Oktavianus. 2005. Kiasan sebagai Budaya Tutur Masyarakat Minangkabau. (disertasi). Denpasar: Program Pascasarjana, Universitas Udayana.
Pamantung, R. 2015. Taksonomi Nomina Aspek Maknan dan Minuman Khas Minahasa. Bali, Pascasarjana Universitas Udayana.
 
Palmer, E. 1976. Semantics. Great Britain: Cambridge University Press.
 
Pateda, Mansoer. 2001. Semantik Leksikal. Jakarta: PT Rineka Cipta.
 
Parera, J. 2004. Teori Semantik. Jakarta: Penerbit Erlangga.
 
Rondonuwu, B. 1983. Minahasa Tanah Tercinta. Manado: Yayasan Karya Pemuda Sulut, KNPI DPD Minahasa.
 
 
Renwarin, R. 2007. Matuari Wo Tonaas. Dinamika Budaya Tombulu di Minahasa. Jilid I: Mawanua. Jakarta: Penerbit Cahaya Pineleng.
 
Salzmann, Z. 1993. Language, Culture, and Society: Introduction to Linguistic Anthropology. USA: Westview Press.
 
Samarin, William J.. 1988. Ilmu Bahasa Lapangan. Terjemahan J.S.Badudu. Yogyakarta: Kanisius.
 
Saeed, J. I. 1999. Lexical Semantics. Massachusets, USA: Blacwell Publishers
 
Spradley, J. 1979. The Ethnographic Interview New York: Holt, Rinehart and Winston.
 
Sibarani. 2007. Linguistik Antropologi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
 
Suriasumantri. 1988. Filsafat Bahasa. Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
 
Tambahani, J. 2002. Kontribusi Tinu’tuan (Bubur Manado) terhadap  Konsumsi Gizi Anak Sekolah Taman Kanak-Kanak di Kabupaten Minahasa Provinsi Sulawesi Utara. Tesis. IPB Bogor
 
Taulu, H. 1952. Hukum Adatr Minahasa. Tomohon: Yayasan Membangun.
 
 
Turang, J. 1997.  Profil Kebudayaan Minahasa.  Tomohon:  Majelis kebudayaan Minahasa.
 
Ullman, S. 1983. Semantics: An Introduction to the Science of Meaning. Oxford: Basic Blackwell.
 
Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
 
Wierzbicka, A. 1996. Semantics Primes and Universals. New York: Oxfprd University.
 
Weichart, G. 2004. Identitas Minahasa: Sebuah Praktik Kuliner. Dalam Jurnal Antropologi Indonesia: Tahun ke XXVIII No.74, Mei – Agustus 2004.
 
 
 
Alm-Arvius, Christina. Figures of Speech. (Sweden: Studentlitteratur, Lund, 2003).
 
Classe, Oliver (Ed.). Encyclopedia of Literary Translation into English. (Vol. 2). (London: Fitzroy Dearborn Publishers, 2000).
 
Danesi, Marcel. Messages, Signs, and Meanings: A Basic Textbook in Semiotics and Communication Theory (3rd Ed.)  (Toronto: Canadian Scholars’ Press Inc., 2004)
 
Davidson, Donald. “What Metaphors Mean,” Critical Inquiry 5(1), 31-47. (Chicago: The University of Chicago Press, 1978).
 
Dickins, James. “Two Models for Metaphor Translation”. Target, 17(2), 2005
 
Krennmayr, Tina. Metaphor in Newspapers. (Utrecht: LOT, 2011).
 
Lakoff, George and Mark Johnson. “Conceptual Metaphor in Everyday Language”. Dalam The Journal of Philosophy, Vol. 77, No. 8 (Aug., 1980), pp. 453-486, http://www.jstor. org/stable/2025464 (diakses 20 Februari 2011)
 
Larson, Mildred L. Meaning-Based Translation: a Guide to Cross-Language Equivalence. (Lanham and London: University Press of America, 1998).
 
McGlynn, John H. (Ed. & Transl.).On Foreign Shores: American Images in Indonesian Poetry. (Jakarta: The Lontar Foundation, 1990).
 
Newmark, Peter. A Textbook of Translation. (New York: Prentice-Hall International, 1988).
 
Ortony, Andrew (Ed.). Metaphor and Thought. (2nd ed.). (Cambridge: Cambridge University Press, 1993)
 
Pragglejaz Group. MIP: A Method for Identifying Metaphorically Used Words in Discourse. Dalam Metaphor and Symbol, 22(1), 1–39. (Lawrence Erlbaum Associates, Inc., 2007).
 
Picken, Jonathan D. Literature, Metaphor, and the Foreign Language Learner. (Hampshire: Palgrave Macmillan, 2007)
 
Punter, David. Metaphor. (New York: Routledge, 2007).
 
Richards, Ivor Amstrong. The Philosophy of Rhetoric. (New York: Oxford University, Press, 1936).
 
Searle, John R. Expression and Meaning: Studies in the Theory of Speech Acts. (Cambridge: Cambridge University Press, 1981).
 
Stockwell, Peter. Cognitive Poetics: An introduction. (New York: Routledge, 2002).
 
Wahab, Abdul. Isu Linguistik dan Pengajaran bahasa dan Sastra. (Surabaya: Airlangga University Press., 1995).
 
Zaimar, Okke Kusuma Sumantri. Majas Dan Pembentukannya. Jurnal Makara, Sosial Humaniora, Vol. 6, No. 2, (Depok: Universitas Indonesia, 2002) hh. 48-49, 1986.
 
 

No More Posts Available.

No more pages to load.